Jadikan Ibrah Perjuangan Rasulullah, Jemaah Haji Batubara Ziarah ke Thaif
0 menit baca
Jelajahisumut.com, Usai prosesi haji di Armuzna dan thawaf ifadah, jemaah haji kloter 4 KNO asal kabupaten Batubara melaksanakan wisata religi ziarah ke thaif, Selasa (2/6/2026) bersama petugas haji dan Ketua KBIHU Al Mukhlisin Batubara.
TPIHI Kloter 4 KNO Bunda Dra. Hj. Refiyanti M.Si dalam perjalanan menuju Thaif M.Si bersama jemaah asal Batubara memaparkan bahwa, ziarah ke Thaif merupakan napak tilas emosional yang mengingatkan kita amul huzni (tahun kesedihan), ketika Rasulullah menghapi ujian dakwah yang sangat berat.
Wajar jika di kota ini juga terdapat beberapa peninggalan sejarah, antara lain: Masjid Addas dan Masjid Ku' (ku'un) yang dalam riwayatnya terkait dengan peristiwa Hijrah Nabi ke Thaif. Peninggalan sejarah lainnya adalah Masjid Jami' Abdullah ibn Abbas. Sesuai namanya, di kompleks masjid ini dikisahkan terdapat makam Abdullah Ibn Abbas.
Bersebelahan dengan Masjid ini, persisnya pada sisi bagian timur, terdapat sebuah perpustakaan yang juga diberi nama Abdullah ibn Abbas. Sosok yang biasa disebut juga dengan Ibu Abbas ini adalah salah satu sepupu sekaligus sahabat Rasulullah SAW. Dia dikenal memiliki pengetahuan luas. Banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui dirinya. Ia jugalah yang menurunkan seluruh khalifah dari Bani Abbasiyah.
Dalam sebuah catatan yang ditempel pada dinding bagian luar perpustakaan, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah menggendong Ibu Abbas kecil, dan mendoakan agar dia diberi keluasan ilmu dan hikmah (Allahumma ‘allimhu al-hikmata).
Catatan itu juga menjelaskan bahwa Perpustakaan Ibn Abbas dibangun pada tahun 1291H oleh penguasa Hijaz Muhammad Rasyid Pasa asy-Syarwani. Dikisahkan bahwa sebelum ada perpustakaan, mewakafkan kitab ke masjid bagi para pencari ilmu menjadi sebuah tradisi pada kurun abad tujuh hingga sepuluh hijriyah.
Bahkan, pada tahun 1217 H, jumlah kitab yang diwakafkan ke masjid hampir mencapai sepuluh ribu, termasuk sekitar tiga puluh naskah Kibab Shahih Bukhari, ujar Bunda Refiyanti dan diaminkan Dinul Islami petugas haji daerah kabupaten Batubara.
Sedangkan Dr. H. Muhammd Nasir Karim, Lc dari perjalanan kita ke Thaif tentang suka duka dakwah Rasulullah dalam mengembankan Islam rahmatan lil 'alamin yang fleksibel dan universal, ada beberapa dijadikan ibrah bagi kita yang sudah berhaji ini adalah:
1. Meneladani Kesabaran dan Keteguhan Hati Thaif mengajarkan Sahabat tentang arti kesabaran sejati. Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan meskipun dilukai secara fisik dan mental. Beliau bahkan menolak tawaran malaikat untuk membinasakan penduduk Thaif. Inilah contoh nyata bahwa dakwah, perjuangan, dan kesabaran adalah jalan utama menuju ridha Allah.
2. Melatih Jiwa untuk Ikhlas
Ziarah ke Thaif mengingatkan jamaah bahwa dalam perjuangan keimanan, tidak semua akan mudah dan sesuai harapan. Kadang-kadang hasil tidak datang seperti yang diinginkan, tapi tetap harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal. Rasulullah tidak mencari dukungan manusia semata, tapi menggantungkan segalanya kepada Allah.
3. Memperdalam Keimanan dan Rasa Cinta kepada Rasulullah Melihat langsung tempat-tempat yang pernah dilalui Rasulullah, merasakan hawa dingin di kota yang dulu menyaksikan luka-luka beliau, akan menumbuhkan rasa cinta dan empati yang dalam. Kita bisa membayangkan perjuangan beliau dalam menyampaikan Islam, bahkan di saat beliau berada dalam kondisi sangat lemah dan teraniaya.
Menurut Ketua PD. IPHI Batubara/ aktifis menggeluti haji, Bakhtiar Mogaza, S.Pd. M.Hum via whatssaap mengatakan kota Thaif: Refleksi dari Dakwah yang Tertunda tapi berbuah manis, meskipun Rasulullah mengalami kegagalan dan penolakan di Thaif, namun kota ini kelak menjadi kota yang menerima Islam dengan penuh cinta. Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Islam masuk ke Thaif dan penduduknya berbondong-bondong memeluk agama ini.
Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa hasil dari sebuah usaha dakwah dan perjuangan tidak selalu langsung terlihat. Namun dengan kesabaran dan doa, Allah pasti memberikan buah terbaik di waktu yang tepat.
Ziarah ke kota Thaif bukan hanya tentang melihat tempat-tempat bersejarah, tetapi tentang menyelami keteladanan Rasulullah, menguatkan hati untuk tetap sabar dalam ujian, dan membangun keimanan yang kokoh. Thaif adalah simbol bagaimana seorang Muslim harus tetap lembut dan tabah, meski dunia seolah menolak dan menyakiti. Inilah pelajaran indah yang bisa dibawa pulang dari kota dingin di balik pegunungan Hijaz ini.
Ditinjau secara akademisi sirah nabawiyah Bakhtiar Mogaza melanjutkan, perjalanan ini bukan sekadar kisah penderitaan, melainkan strategi rasional, ujian kepemimpinan tertinggi, dan peletakan fondasi sosiopolitik bagi masa depan umat Islam.Berikut adalah tinjauan akademis mengenai perjuangan Rasulullah SAW di Thaif:
1. Rasionalitas Strategis Pemilihan ThaifSecara geopolitik dan ekonomi, Thaif memiliki posisi yang sangat vital di Jazirah Arab (terletak sekitar 75-95 km tenggara Makkah).Pusat Kekuatan Militer: Thaif dihuni oleh Bani Tsaqif, suku tangguh dan kuat yang menjadi rival seimbang kaum Quraisy di Makkah. Rasulullah melihat potensi mereka sebagai sekutu (protektor) baru yang strategis untuk menggantikan perlindungan Abu Thalib yang telah wafat.Koneksi Ekonomi & Budaya: Thaif adalah wilayah agraris yang subur dan sejuk, menjadi pusat perdagangan penting. Berdakwah kepada para pemuka kabilah di sini dipandang sebagai cara efektif untuk memengaruhi hegemoni di wilayah Hijaz.
2. Penolakan Sosiopolitik dan Benturan KepentinganKetika Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah tiba di Thaif, beliau menemui tiga tokoh utama Bani Tsaqif. Penolakan yang diterima tidak hanya bersifat personal, melainkan benturan struktural:Ancaman Status Quo: Pemuka Thaif menolak Islam karena ajarannya mengancam tatanan sosial, sistem kasta, dan otoritas ekonomi mereka.Solidaritas Elit: Tokoh Thaif menolak bersekutu dengan Nabi karena takut akan merusak hubungan dagang dan politik mereka dengan kaum Quraisy di Makkah.
3. Ketahanan Mental dan Kecerdasan Emosional (EQ)Insiden fisik di mana Rasulullah SAW diusir dan dilempari batu hingga berdarah bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan ujian kepemimpinan: Menghindari Konflik Berdarah: Ketika Malaikat Jibril menawarkan untuk menimpakan dua gunung (Gunung Abu Qubais dan Al-Qu'ayqian) untuk menghancurkan penduduk Thaif, Nabi SAW menolaknya. Beliau lebih memilih memaafkan dan berdoa agar keturunan mereka kelak memeluk Islam.Manajemen Stres Transendental: Di tengah kelelahan fisik dan psikologis di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah, beliau bermunajat. Doa ini menjadi studi kasus ketahanan spiritual (spiritual resilience) dalam menghadapi penolakan total.
4. Dampak Jangka Panjang (Makro)Secara akademis, penolakan di Thaif membuahkan hasil jangka panjang yang mengubah peta dakwah, Peralihan Strategi Pendekatan (Mikro ke Makro): Rasulullah menyadari bahwa Islam butuh basis wilayah baru yang utuh untuk menjadi sebuah entitas negara, yang kemudian direalisasikan melalui Bai'at Aqabah dan Hijrah ke Madinah.Penaklukan Simbolik (Fathu Makkah): Doa Nabi SAW terkabul.
"Beberapa tahun kemudian, setelah Fathu Makkah, delegasi Bani Tsaqif dari Thaif datang secara sukarela ke Madinah untuk masuk Islam, yang menunjukkan kemenangan dakwah melalui pendekatan cinta kasih dan kesabaran. Peristiwa Thaif adalah bukti akademis bahwa Rasulullah SAW menggunakan pendekatan persuasif yang sangat humanis, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di atas insting untuk membalas dendam saat berada di posisi yang teraniaya. Semoga jemaah haji kloter 4 KNO asal Batubara jadikan ibrah ziarah ke Thaif dalan mempertahan eksistensi kesholehan dan kemabruran haji karena perjuangan dalam kemaslahatan umat menanti mengemban dakwah Rasulullah," ujarnya mengakhiri. (Red),