Dewan Hakim MTQ ke-XIX Kabupaten Batu Bara Kado untuk Kaum Muda
0 menit baca
BATU BARA | Jelajahisumut.com, Musabaqoh Tilawatil Qur'an XIX tingkat kabupaten Batubara yang merupakan perlehatan akbar digelar lapangan Indra Sakti kecamatan Air Putih, punya ciri khas yang tampil beda.
Hadirnya dari segala cabang perlombaan tampilnya dewan hakim dari kaum muda merupakan kado membuktikan sebagai generasi pelanjut membumikan MTQ menjadi tonggak peradaban yang luhur Ketua DPD KNP Batubara dan diacungi jempol Ketua PD. IPHI Batubara yang merupakan mantan aktivis pemuda KNPI dekade 80 an, Kamis (14/05/2026) usai rehat disela acara perlombaan syarhil Qur'an dikecamatan Air Putih.
Dalam konteks ini, Ketua DPD KNPI Batubara Mukhrizal Arif, M.Pd.I bangga atas peran serta tampil mengisi even MTQ yang diberi kepercayaan kepada generasi muda.
Dengan mengusung tema “Membangun Karakter Bangsa yang Qur’ani di Tengah Tantangan Zaman” sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan berbagai tantangan moral, Al-Qur’an harus menjadi pedoman utama dalam membentuk karakter bangsa yang kuat, jujur, amanah, toleran, dan penuh tanggung jawab.
Bagi pemuda, MTQ adalah pengingat bahwa kemajuan tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi harus dibarengi dengan kekuatan spiritual dan akhlak mulia. Pemuda yang Qur’ani adalah pemuda yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam berpikir, bersikap, dan berkarya untuk kemajuan daerah dan bangsa.
"Semoga MTQ ke-19 ini tidak hanya melahirkan qari dan qariah terbaik, tetapi juga melahirkan semangat kolektif untuk membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Kabupaten Batu Bara menjadi daerah yang diberkahi Allah SWT dan masyarakatnya hidup dalam kedamaian, kemajuan, dan kebahagiaan" tutupnya.
Bersamaan itu pula Ketua PD. IPHI Batubara yang juga mantan aktivis pemuda KNPI 80 an H. Bakhtiar Mogaza, S.Pd M.Hum memberi support dan dukungan diarena MTQ XIX kepada dewan hakim yg muda diberi amanah mengukir dengan keprofesional memberi penilaian transparan,akuntabilitas kepada peserta mengikuti cabang MTQ dengan melahirkan duta duta terbaik Batubara mengikuti even nasional
MTQ telah berkembang menjadi ruang konsolidasi spiritual dan kebudayaan. Sejak pertama kali digelar pada 1968 di Makassar, MTQ telah menjadi ajang pemersatu bangsa yang merayakan keberagaman dalam semangat cinta kitab suci.
Dalam berbagai cabang perlombaan, tilawah, syarahan, tahfizh, tafsir, kaligrafi, karya tulis ilmiah- MTQ menampilkan Al Qur'an sebagai sumber sains, seni dan etika sosial.
Ia menegaskan, keberhasilan MTQ tidak semata diukur dari banyaknya pemenang duta terbaik , melainkan dari seberapa jauh nilai-nilai al-Qur’an mewarnai kehidupan masyarakat. “Apakah tilawah masih hidup di masjid-masjid setelah MTQ usai? Apakah nilai Qur’ani hadir di sekolah, rumah, dan ruang publik.
Disamping itu, MTQ adalah sebagai wahana silaturrahim dan sebagai mendorong semangat dan minat baca masyarakat terhadap Al Qur'an sehingga kedepan tidak ada yang buta huruf Al Qur'an, bahkan bisa memahami isi kandungan Al Qur'an setiap individu mampu membangun keshalehan diri dan keshalehan sosial untuk bangsa dan negara.
Melalui MTQ ke-19 yang digelar ini menjadi momentum Batubara bahagia terbangun prestasi hidup generasi muda dan masyarakat menjadikan Al Qur'an sebagai pandangan hidup dan kebutuhan hidup dalam ipoleksosbudhankam menghadapi arus globalisasi/gitalisasi dan sains teknologi.
Namun pun begitu bukan berarti menghindari dalam kemajemukan, Al Qur'an satu satunya yang bisa menjawab tantangan zaman berzaman. Baik buruknya teknologi jangan salahkan teknologi. Teknologi tunduk dengan "the law of possible", semua itu tergantung kita menyikapi. (Red),